Tuhanku, bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk menyadari manakala ia lemah. Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut. Manusia yang memiliki rasa bangga dan keteguhan hati dalam kekalahan, rendah hati dan jujur dalam kemenangan.
Bentuklah puterak menjadi seorang yang kuat dan mengerti, bahwa mengetahui serta mengenal diri sendiri adalah dasar dari segala ilmu yang benar.
Tuhanku, janganlah puteraku Kau bimbing pada jalan yang mudah dan lunak. Biarlah Kau bawa dia ke dalam gelombang dan desak kesulitan tantangan hidup. Bimbinglah puteraku, supaya ia mampu tegak berdiri di tengah badai, serta berwelas asih pada mereka yang jatuh.
Bentuklah puteraku, menjadi manusia berhati bening dengan cita-cita setinggi langit. Seorang manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum memimpin orang lain.
Seorang manusia yang mempu meraih hari depan tapi tak melupakan masa lampau. Dan setelah segala menjadi miliknya semoga puteraku dilengkapi hati yang ringan untuk bergembira serta selalu bersungguh-sungguh namun jangan sekali-kali berlebihan. Berikan kepadanya kerendahan hati, kesederhanaan dan keagungan yang hakiki, pikiran cerah dan terbuka bagi sumber kearifan dan kelembutan dari kekuatan yang sebenarnya sehingga aku, orang tuanya,akan berani berkata:”hidupku tidaklah sia-sia”.
Tulisan ini ditulis oleh Douglas Mac Arthur pada masa-masa paling sulit di awal perang pasifik. Semakin keras dan berat rintangan yang dihadapi seorang manusia, akan menempa dia menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri. Tetaplah teguh berjuang kawan, dimanapun kau berada., meskipun jauh dari keluarga kita, jauh dari orang-orang yang kita sayangi, berpisah dengan sahabat yang selalu mendukung kita, berpisah dengan segala kemudahan yang biasa kita dapatkan.
Ingatlah kawan, kota roma tidak dibangun dalam satu malam….
(8 Juli 2010, di sudut ruangan di Makassar-mungkin ini kebersamaan terakhir kita kawan)